Media Partner

Pasang Iklan

di SuluhBangsa.com
Promosi lebih elegan
Jangkauan Luas Pembaca aktif
Promosi Efektif Brand makin terlihat
Tampil Profesional Cocok untuk usaha
Rp
Harga Fleksibel Bisa diskusikan
Media Partner

Pasang Iklan

di SuluhBangsa.com
Promosi lebih elegan
Jangkauan Luas Pembaca aktif
Promosi Efektif Brand makin terlihat
Tampil Profesional Cocok untuk usaha
Rp
Harga Fleksibel Bisa diskusikan
Media Partner • Promosi • Branding

Pasang Iklan di SuluhBangsa.com

Promosikan usaha, event, produk, dan lembaga Anda secara elegan.
Opini  

Piala Dunia dan Perlawanan Kecil dari Atas Kloset

Gambar Buatan Al
banner 120x600
banner 468x60

Penulis : Sularso Ding

SuluhBangsa.com, Gorontalo Utara – Semalam saya baru saja patah hati setengah mati. Jepang kalah, didepak dari turnamen oleh Brasil, dan mimpi saya ikut hancur bersama mereka.

banner 325x300

Saya menaruh seluruh ekspektasi pada manifesto Japan’s Way. Sederhananya, itu proyek jangka panjang Samurai Biru yang menargetkan gelar juara Piala Dunia 2050.

Buat saya, cara mereka membangun sepak bola adalah bentuk perlawanan. Mereka membuktikan bahwa disiplin dan kerja keras dari Asia mampu meruntuhkan hegemoni Barat yang telah mapan.

Saya ingin sekali melihat kemapanan itu runtuh di kaki mereka. Namun sial, romantisasi itu justru remuk saat saya sedang jatuh hati.

Kamar Mandi, HP, dan Adu Penalti

Kekecewaan pekat itu terbawa sampai pagi. Pikiran saya berantakan. Perut pun mendadak mulas dan menuntut haknya.

Alhasil, di sinilah saya sekarang, terduduk pasrah di atas kloset kamar mandi yang sunyi. Sembari menuntaskan hajat privat yang sama sekali tidak estetik, tangan saya menggenggam HP.

Di layar, babak adu penalti Jerman melawan Paraguay sedang mencapai puncaknya. Sebuah kombinasi aktivitas pagi yang sangat absurd.

Lalu, dalam satu kedipan mata, semesta mendadak membalikkan keadaan.

Tendangan terakhir Jerman gagal. Paraguay menang!

Detik itu juga, rasa sesak yang membungkus hati saya sejak semalam langsung pecah dan menguap. Ledakan kepuasan murni merayap dari ujung kaki sampai kepala.

Di atas kloset itu, saya rasanya ingin berteriak kegirangan. Saya ingin tertawa lepas, bahkan hampir saja melakukan selebrasi seluncur lutut di lantai kamar mandi yang basah dan licin.

Kegelisahan karena kekalahan Jepang semalam langsung lunas. Kompensasi kosmik itu datang begitu instan. Jerman, sang raksasa Eropa, akhirnya angkat koper lebih cepat.

Ketika Sang Raksasa Menangis

Kontras emosi di layar HP kecil itu terasa magis sekaligus brutal. Kamera menyorot wajah para pemain Jerman dari dekat. Mereka manusia-manusia kelas atas. Nilai pasar mereka selangit.

Bahkan, harga potongan rambut mereka mungkin lebih mahal daripada sepatu joging KW yang saya miliki. Prestasi mereka pun bertumpuk.

Namun pagi itu, semua kemewahan, reputasi global, dan nama besar mereka runtuh seketika.

Ada kepuasan estetis yang sulit dijelaskan. Saya merasakan kebahagiaan yang nyaris sakral saat melihat tubuh-tubuh tegap bernilai miliaran itu mendadak kehilangan daya.

Mata mereka mulai berkaca-kaca. Air mata mereka jatuh di atas rumput. Pemandangan itu memunculkan kesenangan yang begitu dalam di dada saya.

Kapan lagi melihat kemapanan absolut yang biasanya tak tersentuh kini telanjang, rapuh, hancur, lalu menangis sesenggukan di hadapan takdir?

Sementara di sisi lain layar, saya masih jongkok sambil merayakan penderitaan mereka dengan sisa-sisa air di dalam ember. Kontrasnya benar-benar luar biasa.

Schadenfreude dan Perlawanan Kaum Underdog

Psikolog punya istilah keren untuk ini, yaitu schadenfreude, alias rasa bahagia saat melihat mereka yang berada di atas terjatuh. Namun bagi saya yang sedang buang hajat, ini bukan sekadar teori psikologi. Ini adalah perayaan sebuah gerakan perlawanan berskala kosmik.

Di dunia nyata, kita semua adalah underdog. Kita dikepung para Goliath modern. Bisa bos yang gemar mengirim revisi pada pukul sebelas malam, birokrasi yang berbelit, atau tatanan sosial yang terasa mustahil ditumbangkan.

Mereka yang memiliki uang dan nama besar sering keluar sebagai pemenang. Mereka meninggalkan kita yang kecil dalam rutinitas harian yang menjemukan dan penuh ketidakberdayaan.

Namun dari bilik kamar mandi ini, kemenangan Paraguay seolah membalaskan dendam saya atas kekalahan Jepang semalam.

Lapangan hijau menjelma menjadi ruang suci. Di sana, uang dan sejarah ratusan tahun bisa runtuh hanya dalam hitungan detik karena nyali, keringat, dan sedikit keberuntungan.

Tangisan para pemain bintang Jerman pagi tadi mengirim pesan yang menampar kesadaran kita. Sistem yang paling kuat pun memiliki celah. Orang kaya bisa meratap sampai ingusan. Mereka yang berada di puncak kemapanan juga tidak selamanya aman.

Sepak Bola Selalu Menyimpan Kejutan

Maroko, yang di atas kertas hanya dianggap pelengkap penderita dalam obrolan para pundit Eropa, pulang sambil membawa kepala raksasa lain. Jepang memang gagal mewakili Asia semalam. Siang ini, saat saya sudah pindah dari kloset ke meja makan dengan piring nasi yang belum disentuh, giliran Afrika yang menjawabnya.

Saya jadi berpikir, mungkin inilah alasan saya sulit berhenti menonton bola meski sering patah hati. Bukan kemenangan yang sudah bisa ditebak dari nilai pasar pemain atau sejarah juara yang membuat saya jatuh cinta. Justru sebaliknya.

Saya menikmati momen ketika semua perhitungan itu runtuh begitu saja. Selama bola masih bundar, gengsi sebesar apa pun bisa diinjak rumput, bahkan sampai titik penalti penentuan.

Dua raksasa tumbang dalam satu hari. Satu sebelum jam sarapan, satu lagi saat makan siang belum dimulai. Pikiran saya, yang membuat nasi di piring keburu dingin, mulai melayang ke depan.

Bagaimana kalau Argentina ikut keok? Atau Prancis dengan deretan bintangnya juga harus pulang lebih cepat?

Saya tidak benar-benar mendoakan itu terjadi, sumpah. Namun ada debaran nakal yang muncul begitu saja. Rasanya seperti harap-harap cemas anak kecil sebelum membuka kado.

Yah, namanya juga turnamen besar. Selalu ada satu kejutan lagi yang disimpan, tepat ketika kita merasa hari itu sudah cukup gila.

Jadi, kalau lain kali Anda mendapati diri sendiri bersorak sendirian, entah di kamar mandi atau di depan piring nasi yang terlupakan, saat tim sebesar Argentina atau Brasil ikut tumbang, nikmati saja.

Anda bukan orang jahat yang senang melihat orang lain susah. Anda hanya percaya bahwa di tengah dunia yang sering kali tidak adil ini, masih ada ruang bagi mereka yang kecil untuk menang.

Bahkan dari tempat dan momen yang paling tidak terduga sekalipun.

Tulisan Kolaborasi Al

Simak breaking news dan berita pilihan SuluhBangsa.com langsung di WhatsApp.

Ikuti Saluran WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *