Suluhbangsa.com, – Kerusakan terumbu karang di perairan Gorontalo Utara tidak hanya mengancam ekosistem laut. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada aktivitas dan penghasilan nelayan.
Pelaku olahraga selam di Gorontalo Utara, Yasin Ali, mengatakan terumbu karang merupakan habitat berbagai jenis ikan yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
“Semakin rusak karang, semakin jauh nelayan melaut karena karang adalah rumah ikan. Tentu kelestarian karang perlu dijaga dengan baik,” kata Yasin.
Menurutnya, kerusakan terumbu karang dapat terjadi akibat berbagai aktivitas di wilayah pesisir. Salah satunya penggunaan jangkar kapal, perahu, dan bagan yang berpotensi mengenai kawasan terumbu karang.
Kondisi perairan pesisir Gorontalo Utara yang memiliki pantai landai turut membuat aktivitas kapal dan perahu dapat berlangsung di sekitar kawasan terumbu.
“Jangkar kalau tidak tertanam dengan baik, tentu tidak bisa menahan kapal dari dorongan arus air laut, menyebabkan kebanyakan kapal nelayan berlabuh di atas kawasan terumbu karang yang berdampak merusak,” ujarnya.
Karena itu, Yasin menilai edukasi kepada masyarakat pesisir perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemahaman mengenai fungsi terumbu karang harus menjadi bagian dari upaya menjaga sumber daya perikanan.
Selain aktivitas kapal, pencemaran dari daratan juga perlu mendapat perhatian. Limbah yang masuk ke sungai dapat terbawa menuju kawasan pesisir dan berpotensi mengganggu ekosistem laut.
Edukasi Masyarakat Perlu Diperkuat
Wakil Ketua I DPRD Gorontalo Utara, Deisy Sandra Maryana Datau, mengatakan pelestarian terumbu karang membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat.
Menurut Deisy, luasnya wilayah pesisir membuat upaya perlindungan terumbu karang tidak bisa hanya mengandalkan komunitas tertentu.
“Menjaga kelestarian terumbu karang bukan hal yang mudah. Oleh karena itu, harus dilakukan secara bersama-sama,” kata Deisy di Gorontalo, Rabu (29/7/2026).
Ia mendorong pemerintah daerah melalui instansi teknis untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat pesisir. Edukasi tersebut perlu dilakukan secara berulang agar menjadi kebiasaan bersama.
“Edukasinya perlu dilakukan berulang, agar menjadi budaya bersama mengingat wilayah kita memiliki garis pantai sepanjang 317 kilometer, yaitu memanjang dari timur ke barat. Sudah pasti pantainya luas, lautnya pun demikian,” ujarnya.
Deisy menilai masyarakat pesisir memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem laut. Sebab, mereka berinteraksi langsung dengan kawasan pesisir dalam aktivitas sehari-hari.
Karena itu, upaya pelestarian perlu berjalan bersama dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan demikian, perlindungan terumbu karang juga dapat menjaga sumber daya perikanan bagi nelayan.
“Kami yakin dan percaya, masyarakat di daerah ini akan menjadi garda terdepan menjaga keberadaan terumbu karang. Seberapa kuatnya suatu komunitas, pasti tidak akan mampu melakukan gerakan ini sendiri,” tutup Deisy.
Simak breaking news dan berita pilihan SuluhBangsa.com langsung di WhatsApp.
Ikuti Saluran WhatsApp





